Rabu, 13 Oktober 2010

karakteristik unsur halogen

PERCOBAAN III
KARAKTERISTIK UNSUR-UNSUR HALOGEN

PEMBAHASAN
Unsur-unsur elektronegatif yang paling reaktif adalah golongan halogen. Unsur-unsur ini terletak pada golongan VIIA sistem periodik. Golongan ini mempunyai elektron valensi 7 dengan konfigurasi elektron s2p5. Unsur-unsur halogen meliputi flour (F), klor (Cl), Brom (Br), yod (I) dan astatin (At). Unsur At berbeda dengan keempat unsur halogen lain, karena bersifat radioaktif . Dalam keadaan bebas, unsur-unsur halogen membentuk molekul diatom yaitu F2, Cl2, Br2 dan I2. F2, Cl2 dan Br2 larut baik dalam air sedangkan I2 sedikir larut dalam air. I2 mudah larut dalam larutan KI dan pelarut-pelarut organik seperti alkohol, eter, kloroform, CCl4 dan CS2. Pada percobaan ini akan melihat karateristik dari unsur-unsur halogen dimana akan dilakukan 2 perlakuan yaitu pembuatan unsur halogen dan uji sifat unsur-unsur halogen.
Pada perlakuan pertama yaitu pembuatan unsur halogen. Pada perlakuan ini pertama-tama unsur halogen dibuat dengan mereaksikan MnO2 dengan HCl pekat dan ditutup dengan kertas saring yang telah ditetesi dengan NaOH dan indikator PP. Pada saat mereaksikan terbentuk gas dan warna merah muda pada kertas saring hilang. Reaksi yang terjadi pada perlakuan ini adalah sebagai berikut :
2e- + 4H+ + MnO2 Mn2+ + 2H2O
2Cl- Cl2 + 2e-
4H+(aq) + 2Cl-¬(aq) + MnO2(aq) Mn2+(aq) + 2H2O(l) + Cl2(g)
Pada reaksi MnO2 berfungsi sebagai okasidator yang mengoksidasi Cl sehingga bilangan oksidasi Cl meningkat dari -1 menjadi 0, sedangkan Mn sendiri mengalami reaksi reduksi dengan penurunan bilangan oksidasi dari +4 menjadi +2. Gas yang terbentuk pada reaksi tersebut adalah gas klorin yang dibuktikan dengan menutup tabung tersebut dengan kertas saring yang ditetesi dengan NaOH dan indikator PP. Dimana indikator PP apabila diteteskan pada larutan basa akan berubah warna menjadi merah muda, sedangkan setelah bereaksi dengan gas yang terbentuk pada tabung tersebut warna merah muda tersebut menjadi hilang karena NaOH pada kertas saring bereaksi dengan gas klor yang dilepaskan dari reaksi diatas membentuk NaCl dimana NaCl bersifat netral, sehingga warna merah muda yang disebabkan oleh indikator PP tersebut hilang. Karena indikator PP yang warna awalnya bening akan tetap bening jika ditetesi pada larutan garam yang netral. Gas klorin yang lepas segera bereaksi dengan NaOH pada kertas saring membentuk garam NaCl dan NaClO yang merupakan garam netral, berdasarkan reaksi :
Cl2(g) + 2NOH NaCl + NaClO + H2O
Pada reaksi tersebut terlihat bahwa Cl mengalami reaksi aotoredoks, yaitu Cl mengalami oksoidasi dan reduksi. Dengan perubahan bilangan oksidasi dari 0 menjadi -1 dan + 1.
Kedua unsur halogen dibuat dengan mereaksikan KMnO4 dengan HCl pekat. Sama dengan perlakuan pertama tabung yang digunakan untuk reaksi ini ditutup kertas saring yang telah ditetesi dengan NaOH dan indikator PP. Persamaan reaksi yang terjadi pada perlakuan ini adalah :
8H+ + MnO4- + 5e Mn2+ + 4H2O x 2
2Cl- Cl2 + 2e¬- x 5
16H+ + 2MnO4- + 10e- 2Mn2+ + 8H2O
10Cl- 5Cl2 + 10e-
16H+ + 10Cl- + 2MnO4- 2Mn2+ + 8H2O + 5Cl2(g)
Pada reaksi tersebut KMnO4 juga berfungsi sebagai oksidator sama dengan MnO2 pada perlakuan pertama. KMnO4 akan mengoksidasi Cl sehingga Cl mengalami reaksi oksidasi yang ditandai dengan perubahan bilangan oksidasi dari -1 menjadi 0. Sedangkan Mn pada KMnO4 mengalami reaksi reduksi dengan perubahan bilangan oksidasi dari +7 menjadi +2. NaOH dan indikator PP pada perlakuan ini sama fungsinya dengan pada perlakuan pertama, untuk membuktikan adanya gas Cl2 yang terbentuk dari reaksi tersebut. Berarti pada pembuatan undur halogen ini unsur halogen yang terbentuk adalah Cl berupa gas Cl2.
Pada perlakuan kedua yaitu uji sifat unsur-unsur halogen, dilakukan 2 perlakuan yaitu perlakuan 2A akan melihat kelarutan unsur halogen jika direaksikan dengan AgNO3 dan CCl4 dan perlakuan 2B yaitu melihat kelarutan unsur halogen jika direaksikan dengan besi (III), NaOH dan CCl4.
Pada perlakuan perlakuan 2A ini digunakan 4 tabung reaksi. Pada tabung pertama mereaksikan KF dengan AgNO3 larutan menjadi keruh dan setelah ditambahkan dengan CCl4 terbentuk 2 lapisan dimana lapisan atas berwarna keruh dan laisan bawah berwarna bening. Pada tabung 2 yaitu mereaksikan KCl dengan AgNO3 larutan yang terbentuk berwarna putih susu dan terdapan endapan putih dan setelah ditambahkan dengan CCl4 terbentuk 2 lapisan dimana lapisan atas berwarna keruh dan lapisan bawah bening dan masih terdapat endapan. Pada tabung ketiga, KBr direaksikan dengan AgNO3 larutan yang terbentuk keruh dan terdapat endapan putih agak kehijauan, setelah ditambahkan dengan CCl4 terbentuk 2 lapisan. Lapisan bawah berwarna bening dan terbentuk endapan sedangkan lapisan atas keruh. Pada tabung 4 mereaksikan KI dengan AgNO3 larutan yang terbentuk lebih keruh dari tabung 3 dan terdapat endapan. Setelah ditambahkan dengan CCl4 terbentuk 2 lapisan dimana lapisan atas keruh, sedangkan lapisan bawah bening dan masih terdapat endapan. Reaksi yang berlangsung pada perlakuan ini adalah sebagai berikut :
AgNO3 + KF AgF + KNO3
AgNO3 + KCl AgCl + KNO3
AgNO3 + KBr AgBr + KNO3
AgNO3 + KI AgBr + KNO3
Dari reaksi tersebut, dapat dilihat bahwa jika KF, KCl, KBr dan KI direaksikan dengan AgNO3 maka masing-masing akan membentuk endapan AgF, AgCl, AgBr, dan AgI yang sukar larut sehingga pada keempat tabung tersebut terbentuk endapan. Tetapi dari hasil pengamatan pada tabung 1 yaitu KF direaksikan dengan AgNO3 tidak terbentuk endapan berbeda dengan keempat tabung lainnya. Hal ini disebabkan kerena pada unsur halogen, F merupakan unsur yang paling elektronegatif sehingga lebih besar kemampuannya untuk menerima 1 elektron yang dilepas oleh Ag+ membentuk AgCl. Keelektronegatifan dalam unsur halogen berkurang dari atas kebawah maka dari percobaan dapat dilihat tingkat kelarutan pada setiap tabung dimana tabung 4 lebih keruh dari tabung 3, tabung 3 lebih keruh dari tabung 2 dan tabung 2 lebih keruh dari tabung 1. Dan pada tabung 1,2, dan 3 terbentuk endapan sedangkan pada tabung 1 tidak terbentuk endapan. Karena susunan keelektronegatifan dari unsur halogen adalah sebagai berikut : F > Cl > Br >I. Selanjutnya setelah keempat tabung ditambahkan dengan CCl4 pada keempat tabung tersebut terjadi pemisahan larutan dimana larutan larutan atas keruh, larutan bawah bening dan pada tabung 1,2, dan 3 masih terdapat endapan. Berarti larutan tersebut tidak bereaksi dengan CCl4 yang ditambahkan. Lapisan bawah yang bening menrupakan larutan CCl4 yang tidak bereaksi dengan lerutan tersebut, sedangkan lapisan atas yang keruh pada keempat tabung adalah larutan awal dalam tiap tabung yang tidak bereaksi dengan CCl4 sedangkan endapan tetap terbentuk pada lapisan bawah karena adanya perbedaan kerapatan ketiga zat tersebut. Kerapatan dari endapan yang terbentuk lebih besar sehingga endapan terletak dibawah, sedangkan kerapatan CCl4 lebih kecil dari kerapatan endapan namun lebih besar dari larutan awal dalam tabung sehingga CCl4 terletak dibawah dan larutan awal dalam tabung memiliki kerapatan yang lebih kecil dari endapan dan CCl4 sehingga terletak diatas.
Pada perlakuan 2B ini perosedurnya sama dengan perlakuan 2A hanya saja pada perlakuan 2B ini menggunakan besi (III) dan NaOH yang tambahkan pada empat tabung yang masing-masing tabung terdapat KF pada tabung 1, KCl pada tabung 2, KBr pada tabung 3 dan KI pada tabung 4. Setelah penambahan besi (III) pada masing-masing tabung semuanya sama-sama membentuk endapan berwarna oranye. Persamaan reaksi untuk keempat tabung tersebut adalah :
FeCl3 + 3NaOH Fe(OH)3 + NaCl
Tabung 1 : Fe(OH)3 + KF FeF3 + KOH
Tabung 2 : Fe(OH)3 + KCl FeCl3 + KOH
Tabung 3 : Fe(OH)3 + KBr FeBr3 + KOH
Tabung 4 : Fe(OH)3 + KI FeI3 + KOH
Endapan oranye yang terbentuk pada keempat tabung tersebut merupakan endapan unsur-unsur halogen yang bereaksi dengan Besi (III) yang masing-masing tabung membentuk endapan FeF3 pada tabung 1, FeCl3 pada tabung 2, FeBr3 pada tabung 3 dan FeI3 pada tabung 4. Dan setelah ditambahkan CCl4 semua larutan dalam keempat tabung tersebut membentuk 2 lapisan, dan diantara kedua lapisan tersebut terdapat endapan oranye. Lapisan bawah adalah larutan CCl4 yang memiliki kerapatan lebih besar dari endapan dan larutan awal dalam tabung, sedangkan endapan oranye adalah endapan halogen yang berikatan dengan besi (III) memiliki karepatan yang lebih kecil dari larutan CCl4 namun lebih besar dari larutan awal dalam tabung, dan lapisan atas adalah larutan dalam tabung yang tidak bereaksi dengan CCl4 karena kerapatannya lebih kecil dari CCl4 dan endapan yang terbentuk.
Pada 2 perlakuan tersebut terlihat bahwa unsur halogen akan bereaksi membentuk endapan jika direaksikan dengan AgNO3 dan besi (III), dan larutan yang terbentuk itu tidak bereaksi dengan larutan CCl4, karena adanya perbedaan kelarutan dan perbedaan kerapatan jenis.
C. KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan yang diperoleh dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan sifat-sifat unsur halogen adalah sebagai berikut :
 Unsur halogen dapat dibuat dengan mereaksikan dengan suatu oksidator MnO2 dan KMnO4.
 Unsur halogen merupakan unsur yang sangat elektronegatif dengan tingkat keelektronegatifannya menurun dari atas ke bawah berarti keelektronegatifan F > Cl > Br >I.
 Kelarutan usur halogen dalam satu golongan semakin berkutang dari atas ke bawah.
 Unsur halogen akan membentuk endapan jika direaksikan dengan AgNO3 dan besi (III) serta endapan dan larutan yang terbentuk tidak bereaksi dengan CCl4.

DAFTAR PUSTAKA

Liliasari. 2002. KIMIA 3 Untuk SMU Kelas 3. Jakarta : Balai Pustaka

Penanggungjawab Mata Kuliah. 2008. PENUNTUN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK I. Palu : UNTAD Press

Tim Dosen Kimia Dasar. 2008. KIMIA DASAR II. Palu : UNTAD Press

Tidak ada komentar:

Posting Komentar