stoikiometri kompleks amin-tembaga
IV. PEMBAHASAN
Dalam suatu pelaksanaan analisis anoganik secara kualitatif maupun kuantitatif banyak digunakan reaksi-reaksi yang menghasilkan pembentukan senyawa kompleks. Suatu ion atau molekul kompleks terdiri atas satu atom (netral atau bermuatan) pusat dan sejumlah ligan yang terikat erat dengan atom atau ion pusat tersebut. Jumlah relatif dari komponen-komponen ini dalam suatu sistem kompleks yang stabil nampaknya mengikuti suatu Stoikiometri tertentu, meskipun tidak dapat ditafsirkan di dalam lingkup konsep valensi yang klasik. (http://whatawonderfulnature.blogspot.com/2009/06/airkesdahannitratkalsiumdll.html)
Proses membuat perhitungan yang didasarkan pada rumus-rumus dan persamaan-persamaan berimbang dirujuk sebagai stoikiometri (dari kata Yunani: stoicheion, unsur dan –metria, ilmu pengukuran). Suatu rumus molekul menyatakan banyaknya atom yang sebenarnya dalam suatu molekul atau satuan terkecil suatu senyawa.
Percobaan ini dilakukan untuk menentukan rumus kompleks ammin-tembaga. Dasar pemikiran dilakukannya percobaan ini adalah bahwa apabila ammonia berlebihan ditambahkan ke dalam larutan garam Cu(II) yang telah diketahui jumlahnya maka kompleks berikut akan terbentuk :
Cu2+ + xNH3 [Cu(NH3)2]2+
Karena menggunakan ammonia berlebihan maka kebolehjadian ion kompleks di atas berdisosiasi ion-ion yang lebih sederhana seperti [Cu(NH3)x-1]2+, [Cu(NH3)x-2]2+ dan seterusnya berkurang. Jika ammonia bebas dalam larutan kompleks diekstraksi menggunakan pelarut kloroform dan kemudian ditentukan konsentrasi maka jumlah ammonia bebas dalam larutan kompleks dapat ditentukan dengan mengetahui koefisien distribusi ammonia dalam kedua pelarut tersebut. Apabila jumlah ammonia total sebelum terbentuk kompleks diketahui maka ammonia yang terkomplekskan dapat dihitung dan rumus kompleks dapat ditentukan. (Penanggungjawab Mata Kuliah, 2009 : 21)
Perlakuan pada percobaan ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu standarisasi larutan NaOH, HCl dan NH3, penentuan koefisien distribusi ammonia dalam air dan kloroform kemudian yang terakhir adalah penentuan rumus molekul kompleks ammin-tembaga (II). Larutan yang digunakan distandarisasi terlebih dahulu agar diperoleh konsentrasi larutan yang sebenarnya, karena pada pembuatan larutan biasanya terdapat kesalahan ketelitian yang mengakibatkan konsentrasi yang dibuat tidak sepenuhnya diperoleh.
Pada standarisasi larutan NaOH digunakan larutan standar primer asam oksalat (H2C2O4) yang dibuat dengan melarutkan 0,63 gram asam aksalat dengan air hingga volumenya mencapai 50 mL. NaOH distandarisasi dengan asam oksalat karena NaOH merupakan larutan basa jadi untuk standarisasinya adalah dengan menggunakan larutan standar primer yang bersifat basa, yaitu pada percobaan ini digunakan larutan asam oksalat. Indikator yang digunakan dalam titrasi ini adalah indicator PP karena indikator PP akan berubah warna menjadi merah muda pada larutan yang bersifat basa jadi dapat memberikan tanda pada titik akhir titrasi pada standarisasi larutan NaOH. Konsentrasi NaOH setelah standarisasi diperoleh yaitu 0,1 N, hasil standarisasi ini sesuai dengan konsentrasi awal NaOH sebelum distandarisasi yaitu 0,1 N.
Pada standarisasi larutan HCl, larutan standar yang digunakan adalah larutan standar NaOH yang telah distandarisasi sebelumnya oleh asam oksalat. HCl distandarisasi dengan NaOH karena HCl merupakan larutan asam maka harus distandarisasi dengan menggunakan larutan standar yang bersifat basa. Konsentrasi HCl setelah distandarisasi diperoleh 0,052 N, hasi yang diperoleh sedikit berbeda dengan konsentrasi HCl yang dibuat yaitu 0,055.
Larutan NH3 distandarisasi dengan menggunakan larutan HCl yang sudah distandarisasi sebelummnya. Seperti halnya NaOH, larutan NH3 merupakan larutan basa jadi distandarisasi dengan menggunakan larutan standar yang bersifat asam. Konsentrasi NH3 yang diperoleh setelah standarisasi diperoleh yaitu 0,17 N sedikit berbeda dengan konsentrasi NH3 yang dibuat yaitu 0,2 N.
Setelah semua larutan distandarisasi selanjutnya yaitu perlakuan untuk penentuan koefisien distribusi ammonia antara air dan kloroform. Penentuan koefisien distribusi ammonia antara air dan kloroform ini dilakukan dengan ditambahkan 10 ml larutan NH3 1 M (hasil standarisasi) dan 10 ml larutan air ke dalam corong pemisah 250 ml, dikocok agar homogen, ditambahkan 25 ml kloroform dikocok selama 5-10 menit, didiamkan sebentar sehingga tampak ada dua lapisan. Pada bagian atas agak keruh dan bawahnya lebih bening. Lapisan atas air dan NH3, lapisan bawah kloroform hal ini dikarenakan adanya perbedaan kepolaran antara senyawa kloroform dengan larutan amoniak dimana berat jenis kloroform lebih besar dibanding berat jenis air. Dimana berat jenis kloroform adalah 1,47 kg/L sedangkan berat jenis air 1 kg/L.
Kemudian larutan kloroform diambil dengan mengalirkan lapisan larutan keluar melalui mulut corong pemisah dan mencampurkannya dengan sedikit akuades. Penambahan aquadest ini tidak akan merubah konsentrasi larutan tetapi hanya berfungsi untuk mempercepat titrasi. Larutan tersebut ditambahkan dengan beberapa tetes indikator metil orange hingga warna berubah menjadi orange karena larutan ini bersifat basa sehingga bila dititrasi dengan larutan asam akan terjadi perubahan warna pada titik akhir titrasi. Karena pada titik akhir titrasi indikator metil orange akan berubah warna menjadi merah muda. Setelah itu dititrasi dengan larutan standar HCl. Titrasi dilakukan sebanyak dua kali dimana untuk titrasi pertama diperoleh volume HCl 0,7 mL dan pada titrasi kedua membutuhkan larutan HCl 0,4 mL untuk mengubah warna larutan dari jingga menjadi merah muda, yang menandakan bahwa larutan menjadi asam dan pH larutan semakin menurun. Fungsi penggunaan titran HCl dalam titrasi ini adalah sebagai penurun nilai pH larutan sehingga larutan yang pada awalnya bersifat basa menjadi asam. Apabila memperhatikan jumlah volume titran yang digunakan hingga larutan mencapai titik ekivalen yang begitu sedikit, maka diketahui bahwa proses berlangsung sangat cepat. Dari hasil perhitungan didapatkan besarnya konsentrasi NH3 rata-rata dari dua perlakuan dalam kloroform yaitu 0,00285 N dan konsentrasi NH3 dalam air sebesar 0,197 N. Dari kedua konsentrasi NH3 dalam masing-masing larutan dapat dihitung koefisien distribusi amonia yaitu sebesar 0,014. Jadi dapat diketahui bahwa hanya sedikit saja larutan NH3 yang terdistribusi dalam larutan kloroform.
Kemudian perlakuan selanjutnya yaitu penentuan rumus kompleks ammin-tembaga(II). Percobaan ini dilakukan dengan mencampurkan 10 mL larutan NH3 dengan 10 mL larutan ion Cu2+ kemudian memasukkannya ke dalam corong pemisah, dan dikocok sampai homogen. Larutan ini ditambahkan dengan 25 mL larutan kloroform dan dikocok selama 5-10 menit. Larutan didiamkan sampai terbentuk dua lapisan. Lapisan atas adalah larutan Cu2+ dalam ammonia sedangkan lapisan bawah adalah larutan Cu2+ dalam kloroform. Terbentuknya dua lapisan ini karena adanya perbedaan berat jenis antara kloroform dan ammonia. Dimana berat jenis kloroform lebih besar dari berat jenis NH3, sehingga kloroform berada di lapisn bawah. Kemudian larutan Cu2+ dalam kloroform dikeluarkan dari mulut corong. Mengambil larutan ini sebanyak 10 mL dan memindahkan ke dalam erlenmeyer yang berisi 10 mL air dan indikator metil orange (mo). Penambahan aquadest disini juga tidak akan mempengaruhi konsentrasi tetapi hanya untuk mempercepat berlangsungnya titrasi. Larutan ini ditirasi dengan larutan HCl sebanyak dua kali dan diperoleh volume titrasinya adalah sebesar 0,5 mL dan 0,8 mL dan diperoleh konsentrasi rata-rata NH3 adalah 0,0034 N. Dari perhitungan diperoleh Normalitas NH3 dalam CU2+ yang dikomplekskan adalah 0,1966 N. Dari kedua konsentrasi NH3 dalam masing-nasing larutan dapat dihitung koefisien distribusi amonia yaitu sebesar 0,017.
Untuk menentukan rumus kompleks ammin-tembaga dari perhitungan diketahui mol Cu 0,1 N diperoleh 1 mmol dan mol NH3 dalam Cu2+ adalah 1,966 yaitu mendekati 2, sehingga perbandingan antara mmol Cu2+ dan mmol NH3 adalah 1 : 2 . Jadi rumus kompleksnya adalah [Cu(NH3)2]2+.
Dalam percobaan ini menunjukkan bahwa atom Cu sebagai atom pusat dan NH3 sebagai ligannya.
(http://annisanfushie.wordpress.com/2009/04/22/stoikhiometri-kompleks-ammin-tembagaii/)
V. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil adalah senyawa kompleks terbentuk dari ion logam dan ligan, senyawa kompleks ammin tembaga dapat terbentuk dengan menambahkan ammonia berlebih ke dalam larutan tembaga (II) yang telah diketahui jumlahnya, nilai koefisien distribusi amonia adalah sebesar 0,017. Jumlah mol NH3 yang terkomplekskan pada percobaan ini adalah sebesar 2 mmol. Dengan perbandingan antara mmol Cu2+ dan mmol NH3 adalah 1 : 2 sehingga rumus kompleks ammin tembaga yang diperoleh pada percobaan ini adalah [Cu(NH3)2]2+.
DAFTAR PUSTAKA
http://annisanfushie.wordpress.com/2009/04/22/stoikhiometri-kompleks-ammin-tembagaii/
http://whatawonderfulnature.blogspot.com/2009/06/airkesdahannitratkalsiumdll.html
Penanggungjawab Mata Kuliah. 2009. Penuntun Praktikum Kimia Anorganik Fisik. Palu : UNTAD PRESS
Putri Keong
Rabu, 13 Oktober 2010
REDOKS UNSUR NITROGEN
PERCOBAAN III
REDOKS UNSUR NITROGEN
PEMBAHASAN
Nitrogen terdapat dalam golongan 15 pada sistem periodik, memiliki 5 elektron valensi dalam konfigurasi ns2np3. Dalam senyawa dengan hidrogen membentuk NH3 memiliki bilangan oksidasi negatif. Bilangan oksidasi yang umum untuk nitrogen adalah -3, +3, dan +5. Oleh karena itu sejumlah senyawa nitrogen dapat mengalami reaksi disproporsionasi. (Daud K. Walanda, 2007).
Percobaan redoks unsur nitrogen ini dilakukan untuk mempelajari reaksi redoks unsur nitrogen dalam asam nitrat, garam nitrat dan amonia, dan akan mempelajari perubahan bilangan oksidasi N dalam reaksi-reaksi tersebut.
1. Uji Reaktifitas Asam Nitrat
Perlakuan pertama adalah mereaksikan 5 mL larutan HNO3 dengan Cu. Pada perlakuan ini terbentuk gas berwarna kuning, suhu panas, warna larutan berwarna biru dan setelah diuji dengan kertas lakmus biru menjadi merah. Persamaan reaksi untuk perlakuan ini adalah
Cu + 4HNO3 Cu(NO3)2 + 2NO2 + 2H2O
Pada reaksi tersebut, terlihat bahwa unsur N mengalami penurunan bilangan oksidasi dari +5 pada HNO3 menjadi +4 pada NO2, berarti pada reaksi tersebut terjadi reaksi reduksi. Dari reaksi tersebut terlihat adanya gas NO2 yang terbentuk pada percobaan, dari hasil pengamatan gas yang terbentuk berwarna kuning, sebenarnya gas yang terbentuk adalah gas berwarna cokelat yang merupakan warna dari gas NO2. Kemingkinan telah terjadi kesalahan pada saat melakukan pengamatan tetapi ada kemungkinan juga bahwa gas yang terbentuk dari percobaan tersebut telah terkontaminasi dengan zat-zat lainnya yang ada dalam ruangan laboratorium. Pada perlakuan ini larutan yang terbentuk berwarna biru, dimana warna biru ini merupakan warna spesifik yang menandakan adanya ion Cu2+. Sedangkan pada saat pengujian dengan kertas lakmus biru menjadi merah menandakan bahwa larutan tersebut bersifat asam karena terbentuk dari asam nitrat, dimana asam nitrat merupakan asam kuat dan juga sebagai pengoksidasi yang kuat yang dapat mengoksidasi hampir semua logam. Pada percobaan ini setelah penambahan Cu, suhu tabung reaksi menjadi panas. Berarti pada reaksi ini terjadi reaksi eksoterm dimana sistem melepaskan kalor (panas) ke lingkungan sehingga suhu lingkungan meningkat.
Pada perlakuan kedua yaitu mereaksikan HNO3 dengan NaOH dan Aluminium. Reaksi ini terjadi reduksi nitrat melepaskan amoniak, yang terjadi dalam suasana basa, sehingga persamaan reaksi pada perlakuan ini dengan metode setengah reaksi sasana basa adalah sebagai berikut :
3HNO3 + 8Al + 5NaOH + 18H2O 3NH3 + 8Na[(OH)4]
Pada reaksi tersebut terlihat unsur N mengalami penurunan bilangan oksidasi dari +5 pada HNO3 menjadi -3 pada pembentukan NH3. NH3 yang terbentuk bersifat basa, sehingga sebenarnya jika diuji dengan kertas lakmus merah akan berubah menjadi biru.
2. Uji Reaktifitas dengan Asam Nitrat
Pada perlakuan pertama yaitu pemanasan larutan KNO3 terbentuk gas dan setelah diuji dengan kertas lakmus merah tetap merah. Persamaan reaksinya adalah :
2KNO3 NO2 + 2KNO2
Sedangkan pada perlakuan kedua yaitu memanaskan Cu(NO3)2 terbentuk gas dan setelah diuji dengan kertas lakmus merah tetap merah. Persamaan reaksinya adalah :
Cu(NO3)2 NO2 + Cu(NO2)2
Pada kedua reaksi tersebut, terlihat bahwa N mengalami perubahan bilangan oksidasi dari +5 menjadi +3 dan +4, berarti pada kedua perlakuan tersebut terjadi reaksi reduksi. Gas yang terbentuk pada percobaan tersebut adalah gas NO2. Setelah diuji dengan kertas lakmus merah tetap merah berarti kedua larutan tersebut bersifat asam.
3. Uji Reaktifitas Asam dan Garam Nitrat
Pada perlakuan pertama yaitu mereaksikan 10 mL H2SO4 dengan larutan NaNO3. Perlakuan ini merupakan proses pembuatan HNO3 dari reaksi asam sulfat pekat dengan natrium nitrat. Karena asam nitrat merupakan suatu cairan yang memiliki titik didih rendah yaitu -41,4oC sehingga reaksi pembentukan HNO3 terjadi pada suhu rendah melakukan reaksi H2SO4 didinginkan terlebih dahulu. Persamaan reaksi pada perlakuan ini adalah :
NaNO3 + H2SO4 NaHSO4 + HNO3
Pada reaksi tersebut terbentuk asam nitrat (HNO3). Yang kemudian pada perlakuan selanjutnya, reaksi antara NaNO3 dengan H2SO4 ditambahkan KI untuk menguji kereaktifan HNO3 yang terbentuk. KI sebagai reduktor, dengan persamaan reaksi :
NO3- + 2I- I2 + NO
8H+ + 6I- + 2NO3- 2NO + 3I2 + 4H2O
Dari persamaan reaksi, terlihat bahwa reaksi yang terjadi adalah reaksi redoks yang ditandai oleh penurunan bilangan oksidasi N dari +5+ menjadi +2 sebagai reaksi reduksi dan peningkatan bilangan oksidasi I dari -1 menjadi 0 sebagai reaksi oksidasinya.
Pada perlakuan ketiga, yaitu reaksi antara H2SO4 dengan NaNO3 ditambahkan dengan KMnO4. HNO3 yang terbentuk dari reaksi H2SO4 dengan NaNO3 tidak bereaksi dengan KMnO4, karena HNO3 merupakan oksidator yang kuat sama dengan KMnO4. Warna larutan yang terbentuk adalah berwarna ungu merupakan warna spesifik dari KMnO4 yang tidak berubah karena tidak terjadi reaksi antara KMnO4 dengan HNO3 yang sama-sama oksidator kuat.
Pada perlakuan keempat, adalah H2SO4 ditambahkan dengan NaNO3 kemudian dipanaskan. Pada saat pemanasan, HNO3 yang terbentuk dari reaksi tersebut terurai dengan persamaan reaksi :
HNO3 H+ + NO3-
4H+ + NO3 + e- NO + 2H2O
Pada reaksi tersebut, terbentuk gas NO yang merupakan gas yang tidak berwarna. Pada pemanasan tersebut, terjadi penurunan bilangan oksidasi N dari +5 menjadi +2.
C. KESIMPULAN
Dari percobaan yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa unsur nitragen d apat mengalami reaksi redoks dengan reaksi antara lain Uji reaktifitas asam nitrat, Uji reaktifitas garam nitrat, dan uji reaktifitas asam dan garam nitrat. Pada beberapa reaksi tersebut N mengalami perubahan bilangan oksidasi.
DAFTAR PUSTAKA
Pnanggungjawab Mata Kuliah. 2008. PENUNTUN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK I. Palu : UNTAD Press
Walanda, K. Daud. 2007. KIMIA ANORGANIK I Kimia Unsur Non Logam. Palu : UNTAD Press.
REDOKS UNSUR NITROGEN
PEMBAHASAN
Nitrogen terdapat dalam golongan 15 pada sistem periodik, memiliki 5 elektron valensi dalam konfigurasi ns2np3. Dalam senyawa dengan hidrogen membentuk NH3 memiliki bilangan oksidasi negatif. Bilangan oksidasi yang umum untuk nitrogen adalah -3, +3, dan +5. Oleh karena itu sejumlah senyawa nitrogen dapat mengalami reaksi disproporsionasi. (Daud K. Walanda, 2007).
Percobaan redoks unsur nitrogen ini dilakukan untuk mempelajari reaksi redoks unsur nitrogen dalam asam nitrat, garam nitrat dan amonia, dan akan mempelajari perubahan bilangan oksidasi N dalam reaksi-reaksi tersebut.
1. Uji Reaktifitas Asam Nitrat
Perlakuan pertama adalah mereaksikan 5 mL larutan HNO3 dengan Cu. Pada perlakuan ini terbentuk gas berwarna kuning, suhu panas, warna larutan berwarna biru dan setelah diuji dengan kertas lakmus biru menjadi merah. Persamaan reaksi untuk perlakuan ini adalah
Cu + 4HNO3 Cu(NO3)2 + 2NO2 + 2H2O
Pada reaksi tersebut, terlihat bahwa unsur N mengalami penurunan bilangan oksidasi dari +5 pada HNO3 menjadi +4 pada NO2, berarti pada reaksi tersebut terjadi reaksi reduksi. Dari reaksi tersebut terlihat adanya gas NO2 yang terbentuk pada percobaan, dari hasil pengamatan gas yang terbentuk berwarna kuning, sebenarnya gas yang terbentuk adalah gas berwarna cokelat yang merupakan warna dari gas NO2. Kemingkinan telah terjadi kesalahan pada saat melakukan pengamatan tetapi ada kemungkinan juga bahwa gas yang terbentuk dari percobaan tersebut telah terkontaminasi dengan zat-zat lainnya yang ada dalam ruangan laboratorium. Pada perlakuan ini larutan yang terbentuk berwarna biru, dimana warna biru ini merupakan warna spesifik yang menandakan adanya ion Cu2+. Sedangkan pada saat pengujian dengan kertas lakmus biru menjadi merah menandakan bahwa larutan tersebut bersifat asam karena terbentuk dari asam nitrat, dimana asam nitrat merupakan asam kuat dan juga sebagai pengoksidasi yang kuat yang dapat mengoksidasi hampir semua logam. Pada percobaan ini setelah penambahan Cu, suhu tabung reaksi menjadi panas. Berarti pada reaksi ini terjadi reaksi eksoterm dimana sistem melepaskan kalor (panas) ke lingkungan sehingga suhu lingkungan meningkat.
Pada perlakuan kedua yaitu mereaksikan HNO3 dengan NaOH dan Aluminium. Reaksi ini terjadi reduksi nitrat melepaskan amoniak, yang terjadi dalam suasana basa, sehingga persamaan reaksi pada perlakuan ini dengan metode setengah reaksi sasana basa adalah sebagai berikut :
3HNO3 + 8Al + 5NaOH + 18H2O 3NH3 + 8Na[(OH)4]
Pada reaksi tersebut terlihat unsur N mengalami penurunan bilangan oksidasi dari +5 pada HNO3 menjadi -3 pada pembentukan NH3. NH3 yang terbentuk bersifat basa, sehingga sebenarnya jika diuji dengan kertas lakmus merah akan berubah menjadi biru.
2. Uji Reaktifitas dengan Asam Nitrat
Pada perlakuan pertama yaitu pemanasan larutan KNO3 terbentuk gas dan setelah diuji dengan kertas lakmus merah tetap merah. Persamaan reaksinya adalah :
2KNO3 NO2 + 2KNO2
Sedangkan pada perlakuan kedua yaitu memanaskan Cu(NO3)2 terbentuk gas dan setelah diuji dengan kertas lakmus merah tetap merah. Persamaan reaksinya adalah :
Cu(NO3)2 NO2 + Cu(NO2)2
Pada kedua reaksi tersebut, terlihat bahwa N mengalami perubahan bilangan oksidasi dari +5 menjadi +3 dan +4, berarti pada kedua perlakuan tersebut terjadi reaksi reduksi. Gas yang terbentuk pada percobaan tersebut adalah gas NO2. Setelah diuji dengan kertas lakmus merah tetap merah berarti kedua larutan tersebut bersifat asam.
3. Uji Reaktifitas Asam dan Garam Nitrat
Pada perlakuan pertama yaitu mereaksikan 10 mL H2SO4 dengan larutan NaNO3. Perlakuan ini merupakan proses pembuatan HNO3 dari reaksi asam sulfat pekat dengan natrium nitrat. Karena asam nitrat merupakan suatu cairan yang memiliki titik didih rendah yaitu -41,4oC sehingga reaksi pembentukan HNO3 terjadi pada suhu rendah melakukan reaksi H2SO4 didinginkan terlebih dahulu. Persamaan reaksi pada perlakuan ini adalah :
NaNO3 + H2SO4 NaHSO4 + HNO3
Pada reaksi tersebut terbentuk asam nitrat (HNO3). Yang kemudian pada perlakuan selanjutnya, reaksi antara NaNO3 dengan H2SO4 ditambahkan KI untuk menguji kereaktifan HNO3 yang terbentuk. KI sebagai reduktor, dengan persamaan reaksi :
NO3- + 2I- I2 + NO
8H+ + 6I- + 2NO3- 2NO + 3I2 + 4H2O
Dari persamaan reaksi, terlihat bahwa reaksi yang terjadi adalah reaksi redoks yang ditandai oleh penurunan bilangan oksidasi N dari +5+ menjadi +2 sebagai reaksi reduksi dan peningkatan bilangan oksidasi I dari -1 menjadi 0 sebagai reaksi oksidasinya.
Pada perlakuan ketiga, yaitu reaksi antara H2SO4 dengan NaNO3 ditambahkan dengan KMnO4. HNO3 yang terbentuk dari reaksi H2SO4 dengan NaNO3 tidak bereaksi dengan KMnO4, karena HNO3 merupakan oksidator yang kuat sama dengan KMnO4. Warna larutan yang terbentuk adalah berwarna ungu merupakan warna spesifik dari KMnO4 yang tidak berubah karena tidak terjadi reaksi antara KMnO4 dengan HNO3 yang sama-sama oksidator kuat.
Pada perlakuan keempat, adalah H2SO4 ditambahkan dengan NaNO3 kemudian dipanaskan. Pada saat pemanasan, HNO3 yang terbentuk dari reaksi tersebut terurai dengan persamaan reaksi :
HNO3 H+ + NO3-
4H+ + NO3 + e- NO + 2H2O
Pada reaksi tersebut, terbentuk gas NO yang merupakan gas yang tidak berwarna. Pada pemanasan tersebut, terjadi penurunan bilangan oksidasi N dari +5 menjadi +2.
C. KESIMPULAN
Dari percobaan yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa unsur nitragen d apat mengalami reaksi redoks dengan reaksi antara lain Uji reaktifitas asam nitrat, Uji reaktifitas garam nitrat, dan uji reaktifitas asam dan garam nitrat. Pada beberapa reaksi tersebut N mengalami perubahan bilangan oksidasi.
DAFTAR PUSTAKA
Pnanggungjawab Mata Kuliah. 2008. PENUNTUN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK I. Palu : UNTAD Press
Walanda, K. Daud. 2007. KIMIA ANORGANIK I Kimia Unsur Non Logam. Palu : UNTAD Press.
pangeran kuda putih
pangeran kuda putihQ,,,
mungkin kw tak memperhatikanQ. tapi sesungguhnya Q selalu memperhatikan setiap detil dari dirimu.
kw pangeran idaman hatiQ, yg ku puja dan ku nanti.
hanya saja kw tak mengenaliku, bahkan tak melihatQ. padahal Q selalu ada di dekatmu.
mungkin kw tak memperhatikanQ. tapi sesungguhnya Q selalu memperhatikan setiap detil dari dirimu.
kw pangeran idaman hatiQ, yg ku puja dan ku nanti.
hanya saja kw tak mengenaliku, bahkan tak melihatQ. padahal Q selalu ada di dekatmu.
pembuatan natrium tiosulfat
PERCOBAAN IV
PEMBUATAN NATRIUM TIOSULFAT
B. PEMBAHASAN
Asam tiosulfat kurang stabil pada temperatur kamar. Asam ini dapat dipisahkan pada temperatur -78oC.
Ion tiosulfat dapat diperoleh secara tepat dengn cara mendidihkan belerang tiosulfit atau dengan cara mendekomposisi ion ditionit. Ion tiosulfat memiliki stuktur [S-SO3]= dengan panjang ikatan S – S dan S – O menunjukan bahwa dalam ikatan S – S juga terlibat adanya ikatan phi.
Pada percobaan kali ini, akan mempelajari cara pembuatan natrium tiosulfat dan sifat-sifat kimianya.
Pada perlakuan pertama yaitu pembuatan natrium tiosulfat dengan cara mendidihkan belerang dengan natrium tiosulfit, yang mencampurnya dengan menggunakan aquades. Campuran tersebut direfluks selama 1-2 jam diatas pemanas listrik. Campuran tersebut direfluks gunanya agar kedua senyawa tersebut yaitu natrium sulfit dan belerang benar-benar tercampur dengan baik. Campuran tersebut direfluks diatas pemanas adalah untuk pemanasan agar pencampuran tersebut lebih cepat terjadi. Jadi pemanasan bertujuan sebagai katalis untuk mempercepat berlangsungnya proses perefluksan tersebut. Perefluksan terus dilanjutkan sampai pada campuran terbentuk seperti 2 lapisan, yaitu lapisan agak bening dibawah dan lapisan kuning diatas. Setelah terbentuk 2 lapisan tersebut, perefluksan dihentikan dan disaring dengan kertas saring, tetapi sebelumnya didinginkan terlebih dahulu. Filtrat hasil penyaringan diambil kemudian dipanaskan kembali sampai tersisa kurang lebih 10 mL, pemanasan tersebut dilakuka agar kandungan air yang masih ada dalam filtrat tersebur menguap, jadi sisa filtrat natrium tiosulfat yang kemuadian didinginkan dengan es batu sampai terbentuk kristal putih. Es batu berfungsi agar kristal dapat terbentuk dengan cepat. Dari penimbangan diperoleh berat kristal natrium tiosulfat yang terbentuk adalah 28,12 gr.
Perlakuan selanjutnya adalah kristal yang terbentuk tadi dipanaskan, persamaan reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
Na2S2O3.xH2O(s) Na2S2O3(s) + xH2O(l)
Pada saat pemanasan, molekul air yang masih terkandung dalam kristal natrium tiosulfit akan lepas, namun karena jumlah molekul air yang terikat pada kristal tidak diketahui berapa jumlahnya maka pada persamaan reaksi jumlah molekul air dituliskan dengan lambang x. Berarti pada saat pemanasan, kristal natrium tiosulfat melepaskan sebanyak x molekul H¬2O (air).
Pada perlakuan kedua, kristal natrium tiosulfat yang dibat tadi direaksikan dengan iod (I2), hasil pengamatan yang diperoleh adalah larutan yang terbentuk agak keruh. Persamaan reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
Reduksi : I2 + 2e 2I- x4
Oksidasi : S2O32- + 5H2O 2SO42- + 10H2O + 8e x1
Reduksi : 4I2 + 8e 8I-
Oksidasi : S2O32- + 5H2O 2SO42- + 10H2O + 8e
Redoks : 4I2 + S2O32- + 5H2O 8I- + 2SO42- + 10H+
Pada persamaan reaksi tersebut, terlihat bahwa iod berfungsi sebagai oksidator yang mengoksidasi ion tiosulfit menjadi ion sulfat, dan iod sendiri mengalami reduksi dari I2 menjadi I-.
Pada perlakuan selanjutnya yaitu reaksi dengan klor, dimana mereaksikan 2-3mL natrium tiosulfat dengan asam klorida encer dan ditambahkan dengan barium klorida, hasil pengamatan yang diperoleh larutan berwarna putih susu. Persamaan reaksi yang terjadi adalah :
Na2S2O3 + 2HCl 2NaCl + H2S2O3
H2S2O3 + BaCl2 BaS2¬O3 + 2HCl
Pada penambahan dengan HCl terbentuk garam NaCl dengan asam tiosulfit, dan setelah penambahan dengan BaCl2 terbentuk barium tiosulfat dan asam terbentuk kembali asam klorida. Larutan yang terbentuk berwarna putih susu karena barium tiosulfat kurang kelarutannya, karena barium merupakan unsur golongan IIA dan oksidanya bersifat basa dan mempunyai kelarutan yang rendah dalam air dan asam encer. Selain itu, logam golongan IIA seperti Barium merupakan logam yang lebih keras, lebih rapat dan melebur pada temperatur yang lebih tinggi. Maka dari itu pada saat dicampurkan dengan BaCl2 larutan yang terbentuk sangat keruh, berwarna putih susu bahkan dapat terbentuk endapan.
Pada perlakuan selanjutnya yaitu melihat pengaruh asam encer, yaitu mereaksikan larutan natrium tiosulfat dengan asam klorida encer, larutan yang terbentuk bening dan timbul bau menyengat. Persamaan reaksi yang terjadi adalah :
Na2S2O3 + 2HCl 2NaCl + H2S + SO3
Larutan yang terbentuk bening karena natrium tiosulfat sangat larut pada asam encer, dimana dari persamaan reaksi yang terbentuk adalah garam NaCl, yang berwarna bening. Pada percobaan ini timbul bau yang menyengat, bau tersebut adalah bau dari gas H2S yang ditimbulkan dari reaksi tersebut.
Pada perlakuan lainnya yaitu, melakukan percobaan yang sama dengan perlakuan diatas tetapi dengan menggunakan kristal Na2S2O3.5H2O. Pada saat pemanasan, kristal Na2S2O3.5H2O lebih cepat mencair dari pada kristal Na2S2O3.xH2O yang dibuat. Hal ini disebabkan karena pada kristal Na2S2O3.xH2O yang dibuat lebih banyak mengandung uap air sehingga pada saat pemanasan, kristal tersebut mulannya akan mengering terlebih dahulu dengan melepaskan uap air baru kemudian akan mencair kembali setelah mencapai titik lelehnya. Sehingga lebih lambat mencair dari pada kristal Na2S2O3.5H2O, karena kristal Na2S2O3.5H2O sudah dalam bentuk kristal yang kering sehingga pada saat dipanaskan langsung mencair. Perlakuan yang lainnya larutan yang dihasilkan lebih keruh dibandingkan pada perlakuan sebelumnya, baik pada saat direaksikan dengan iod, BaCl2 dan HCl encer. Hal ini disebabkan karena kandungan air yang terikat pada Na2S2O3.5H2O lebih sedikit dibandingkan Na2S2O3.xH2O. Dimana pada pembuatan Na2S2O3.xH2O, kristal yang terbentuk belum benar-benar kering berarti molekul air yang terikat lebih banyak.
C. KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan yang diperoleh dari percobaan yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Natrium tiosulfat dapat dibuat dengan cara mendidihkan belerang dengan tiosulfit, dengan cara merefluks campuran tersebut diatas pemanas.
2. Sifat-sifat kimia natrium tiosulfit :
a. Bila kristal natrium tiosulfat dipanaskan akan melepaskan uap air yang dikandungnya, dimana kristal yang lebih banyak mengandung molekul air akan lebih lambat mencair dari pada yang sedikit mengandung molekul air.
b. Ion tiosulfit (S2O32-) akan teroksidasi menjadi ion sulfat (SO42-) apabila direaksikan dengan iod.
c. Natrium tiosulfat bila direaksikan dengan HCl dan BaCl2 akan membentuk larutan berwarna putih susu bahkan membentuk endapan.
d. Natrium tiosulfat akan larut dalam asam encer dan dari reaksinya akan terbentuk gas H2S yang berbau menyengat.
PEMBUATAN NATRIUM TIOSULFAT
B. PEMBAHASAN
Asam tiosulfat kurang stabil pada temperatur kamar. Asam ini dapat dipisahkan pada temperatur -78oC.
Ion tiosulfat dapat diperoleh secara tepat dengn cara mendidihkan belerang tiosulfit atau dengan cara mendekomposisi ion ditionit. Ion tiosulfat memiliki stuktur [S-SO3]= dengan panjang ikatan S – S dan S – O menunjukan bahwa dalam ikatan S – S juga terlibat adanya ikatan phi.
Pada percobaan kali ini, akan mempelajari cara pembuatan natrium tiosulfat dan sifat-sifat kimianya.
Pada perlakuan pertama yaitu pembuatan natrium tiosulfat dengan cara mendidihkan belerang dengan natrium tiosulfit, yang mencampurnya dengan menggunakan aquades. Campuran tersebut direfluks selama 1-2 jam diatas pemanas listrik. Campuran tersebut direfluks gunanya agar kedua senyawa tersebut yaitu natrium sulfit dan belerang benar-benar tercampur dengan baik. Campuran tersebut direfluks diatas pemanas adalah untuk pemanasan agar pencampuran tersebut lebih cepat terjadi. Jadi pemanasan bertujuan sebagai katalis untuk mempercepat berlangsungnya proses perefluksan tersebut. Perefluksan terus dilanjutkan sampai pada campuran terbentuk seperti 2 lapisan, yaitu lapisan agak bening dibawah dan lapisan kuning diatas. Setelah terbentuk 2 lapisan tersebut, perefluksan dihentikan dan disaring dengan kertas saring, tetapi sebelumnya didinginkan terlebih dahulu. Filtrat hasil penyaringan diambil kemudian dipanaskan kembali sampai tersisa kurang lebih 10 mL, pemanasan tersebut dilakuka agar kandungan air yang masih ada dalam filtrat tersebur menguap, jadi sisa filtrat natrium tiosulfat yang kemuadian didinginkan dengan es batu sampai terbentuk kristal putih. Es batu berfungsi agar kristal dapat terbentuk dengan cepat. Dari penimbangan diperoleh berat kristal natrium tiosulfat yang terbentuk adalah 28,12 gr.
Perlakuan selanjutnya adalah kristal yang terbentuk tadi dipanaskan, persamaan reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
Na2S2O3.xH2O(s) Na2S2O3(s) + xH2O(l)
Pada saat pemanasan, molekul air yang masih terkandung dalam kristal natrium tiosulfit akan lepas, namun karena jumlah molekul air yang terikat pada kristal tidak diketahui berapa jumlahnya maka pada persamaan reaksi jumlah molekul air dituliskan dengan lambang x. Berarti pada saat pemanasan, kristal natrium tiosulfat melepaskan sebanyak x molekul H¬2O (air).
Pada perlakuan kedua, kristal natrium tiosulfat yang dibat tadi direaksikan dengan iod (I2), hasil pengamatan yang diperoleh adalah larutan yang terbentuk agak keruh. Persamaan reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
Reduksi : I2 + 2e 2I- x4
Oksidasi : S2O32- + 5H2O 2SO42- + 10H2O + 8e x1
Reduksi : 4I2 + 8e 8I-
Oksidasi : S2O32- + 5H2O 2SO42- + 10H2O + 8e
Redoks : 4I2 + S2O32- + 5H2O 8I- + 2SO42- + 10H+
Pada persamaan reaksi tersebut, terlihat bahwa iod berfungsi sebagai oksidator yang mengoksidasi ion tiosulfit menjadi ion sulfat, dan iod sendiri mengalami reduksi dari I2 menjadi I-.
Pada perlakuan selanjutnya yaitu reaksi dengan klor, dimana mereaksikan 2-3mL natrium tiosulfat dengan asam klorida encer dan ditambahkan dengan barium klorida, hasil pengamatan yang diperoleh larutan berwarna putih susu. Persamaan reaksi yang terjadi adalah :
Na2S2O3 + 2HCl 2NaCl + H2S2O3
H2S2O3 + BaCl2 BaS2¬O3 + 2HCl
Pada penambahan dengan HCl terbentuk garam NaCl dengan asam tiosulfit, dan setelah penambahan dengan BaCl2 terbentuk barium tiosulfat dan asam terbentuk kembali asam klorida. Larutan yang terbentuk berwarna putih susu karena barium tiosulfat kurang kelarutannya, karena barium merupakan unsur golongan IIA dan oksidanya bersifat basa dan mempunyai kelarutan yang rendah dalam air dan asam encer. Selain itu, logam golongan IIA seperti Barium merupakan logam yang lebih keras, lebih rapat dan melebur pada temperatur yang lebih tinggi. Maka dari itu pada saat dicampurkan dengan BaCl2 larutan yang terbentuk sangat keruh, berwarna putih susu bahkan dapat terbentuk endapan.
Pada perlakuan selanjutnya yaitu melihat pengaruh asam encer, yaitu mereaksikan larutan natrium tiosulfat dengan asam klorida encer, larutan yang terbentuk bening dan timbul bau menyengat. Persamaan reaksi yang terjadi adalah :
Na2S2O3 + 2HCl 2NaCl + H2S + SO3
Larutan yang terbentuk bening karena natrium tiosulfat sangat larut pada asam encer, dimana dari persamaan reaksi yang terbentuk adalah garam NaCl, yang berwarna bening. Pada percobaan ini timbul bau yang menyengat, bau tersebut adalah bau dari gas H2S yang ditimbulkan dari reaksi tersebut.
Pada perlakuan lainnya yaitu, melakukan percobaan yang sama dengan perlakuan diatas tetapi dengan menggunakan kristal Na2S2O3.5H2O. Pada saat pemanasan, kristal Na2S2O3.5H2O lebih cepat mencair dari pada kristal Na2S2O3.xH2O yang dibuat. Hal ini disebabkan karena pada kristal Na2S2O3.xH2O yang dibuat lebih banyak mengandung uap air sehingga pada saat pemanasan, kristal tersebut mulannya akan mengering terlebih dahulu dengan melepaskan uap air baru kemudian akan mencair kembali setelah mencapai titik lelehnya. Sehingga lebih lambat mencair dari pada kristal Na2S2O3.5H2O, karena kristal Na2S2O3.5H2O sudah dalam bentuk kristal yang kering sehingga pada saat dipanaskan langsung mencair. Perlakuan yang lainnya larutan yang dihasilkan lebih keruh dibandingkan pada perlakuan sebelumnya, baik pada saat direaksikan dengan iod, BaCl2 dan HCl encer. Hal ini disebabkan karena kandungan air yang terikat pada Na2S2O3.5H2O lebih sedikit dibandingkan Na2S2O3.xH2O. Dimana pada pembuatan Na2S2O3.xH2O, kristal yang terbentuk belum benar-benar kering berarti molekul air yang terikat lebih banyak.
C. KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan yang diperoleh dari percobaan yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Natrium tiosulfat dapat dibuat dengan cara mendidihkan belerang dengan tiosulfit, dengan cara merefluks campuran tersebut diatas pemanas.
2. Sifat-sifat kimia natrium tiosulfit :
a. Bila kristal natrium tiosulfat dipanaskan akan melepaskan uap air yang dikandungnya, dimana kristal yang lebih banyak mengandung molekul air akan lebih lambat mencair dari pada yang sedikit mengandung molekul air.
b. Ion tiosulfit (S2O32-) akan teroksidasi menjadi ion sulfat (SO42-) apabila direaksikan dengan iod.
c. Natrium tiosulfat bila direaksikan dengan HCl dan BaCl2 akan membentuk larutan berwarna putih susu bahkan membentuk endapan.
d. Natrium tiosulfat akan larut dalam asam encer dan dari reaksinya akan terbentuk gas H2S yang berbau menyengat.
karakteristik unsur halogen
PERCOBAAN III
KARAKTERISTIK UNSUR-UNSUR HALOGEN
PEMBAHASAN
Unsur-unsur elektronegatif yang paling reaktif adalah golongan halogen. Unsur-unsur ini terletak pada golongan VIIA sistem periodik. Golongan ini mempunyai elektron valensi 7 dengan konfigurasi elektron s2p5. Unsur-unsur halogen meliputi flour (F), klor (Cl), Brom (Br), yod (I) dan astatin (At). Unsur At berbeda dengan keempat unsur halogen lain, karena bersifat radioaktif . Dalam keadaan bebas, unsur-unsur halogen membentuk molekul diatom yaitu F2, Cl2, Br2 dan I2. F2, Cl2 dan Br2 larut baik dalam air sedangkan I2 sedikir larut dalam air. I2 mudah larut dalam larutan KI dan pelarut-pelarut organik seperti alkohol, eter, kloroform, CCl4 dan CS2. Pada percobaan ini akan melihat karateristik dari unsur-unsur halogen dimana akan dilakukan 2 perlakuan yaitu pembuatan unsur halogen dan uji sifat unsur-unsur halogen.
Pada perlakuan pertama yaitu pembuatan unsur halogen. Pada perlakuan ini pertama-tama unsur halogen dibuat dengan mereaksikan MnO2 dengan HCl pekat dan ditutup dengan kertas saring yang telah ditetesi dengan NaOH dan indikator PP. Pada saat mereaksikan terbentuk gas dan warna merah muda pada kertas saring hilang. Reaksi yang terjadi pada perlakuan ini adalah sebagai berikut :
2e- + 4H+ + MnO2 Mn2+ + 2H2O
2Cl- Cl2 + 2e-
4H+(aq) + 2Cl-¬(aq) + MnO2(aq) Mn2+(aq) + 2H2O(l) + Cl2(g)
Pada reaksi MnO2 berfungsi sebagai okasidator yang mengoksidasi Cl sehingga bilangan oksidasi Cl meningkat dari -1 menjadi 0, sedangkan Mn sendiri mengalami reaksi reduksi dengan penurunan bilangan oksidasi dari +4 menjadi +2. Gas yang terbentuk pada reaksi tersebut adalah gas klorin yang dibuktikan dengan menutup tabung tersebut dengan kertas saring yang ditetesi dengan NaOH dan indikator PP. Dimana indikator PP apabila diteteskan pada larutan basa akan berubah warna menjadi merah muda, sedangkan setelah bereaksi dengan gas yang terbentuk pada tabung tersebut warna merah muda tersebut menjadi hilang karena NaOH pada kertas saring bereaksi dengan gas klor yang dilepaskan dari reaksi diatas membentuk NaCl dimana NaCl bersifat netral, sehingga warna merah muda yang disebabkan oleh indikator PP tersebut hilang. Karena indikator PP yang warna awalnya bening akan tetap bening jika ditetesi pada larutan garam yang netral. Gas klorin yang lepas segera bereaksi dengan NaOH pada kertas saring membentuk garam NaCl dan NaClO yang merupakan garam netral, berdasarkan reaksi :
Cl2(g) + 2NOH NaCl + NaClO + H2O
Pada reaksi tersebut terlihat bahwa Cl mengalami reaksi aotoredoks, yaitu Cl mengalami oksoidasi dan reduksi. Dengan perubahan bilangan oksidasi dari 0 menjadi -1 dan + 1.
Kedua unsur halogen dibuat dengan mereaksikan KMnO4 dengan HCl pekat. Sama dengan perlakuan pertama tabung yang digunakan untuk reaksi ini ditutup kertas saring yang telah ditetesi dengan NaOH dan indikator PP. Persamaan reaksi yang terjadi pada perlakuan ini adalah :
8H+ + MnO4- + 5e Mn2+ + 4H2O x 2
2Cl- Cl2 + 2e¬- x 5
16H+ + 2MnO4- + 10e- 2Mn2+ + 8H2O
10Cl- 5Cl2 + 10e-
16H+ + 10Cl- + 2MnO4- 2Mn2+ + 8H2O + 5Cl2(g)
Pada reaksi tersebut KMnO4 juga berfungsi sebagai oksidator sama dengan MnO2 pada perlakuan pertama. KMnO4 akan mengoksidasi Cl sehingga Cl mengalami reaksi oksidasi yang ditandai dengan perubahan bilangan oksidasi dari -1 menjadi 0. Sedangkan Mn pada KMnO4 mengalami reaksi reduksi dengan perubahan bilangan oksidasi dari +7 menjadi +2. NaOH dan indikator PP pada perlakuan ini sama fungsinya dengan pada perlakuan pertama, untuk membuktikan adanya gas Cl2 yang terbentuk dari reaksi tersebut. Berarti pada pembuatan undur halogen ini unsur halogen yang terbentuk adalah Cl berupa gas Cl2.
Pada perlakuan kedua yaitu uji sifat unsur-unsur halogen, dilakukan 2 perlakuan yaitu perlakuan 2A akan melihat kelarutan unsur halogen jika direaksikan dengan AgNO3 dan CCl4 dan perlakuan 2B yaitu melihat kelarutan unsur halogen jika direaksikan dengan besi (III), NaOH dan CCl4.
Pada perlakuan perlakuan 2A ini digunakan 4 tabung reaksi. Pada tabung pertama mereaksikan KF dengan AgNO3 larutan menjadi keruh dan setelah ditambahkan dengan CCl4 terbentuk 2 lapisan dimana lapisan atas berwarna keruh dan laisan bawah berwarna bening. Pada tabung 2 yaitu mereaksikan KCl dengan AgNO3 larutan yang terbentuk berwarna putih susu dan terdapan endapan putih dan setelah ditambahkan dengan CCl4 terbentuk 2 lapisan dimana lapisan atas berwarna keruh dan lapisan bawah bening dan masih terdapat endapan. Pada tabung ketiga, KBr direaksikan dengan AgNO3 larutan yang terbentuk keruh dan terdapat endapan putih agak kehijauan, setelah ditambahkan dengan CCl4 terbentuk 2 lapisan. Lapisan bawah berwarna bening dan terbentuk endapan sedangkan lapisan atas keruh. Pada tabung 4 mereaksikan KI dengan AgNO3 larutan yang terbentuk lebih keruh dari tabung 3 dan terdapat endapan. Setelah ditambahkan dengan CCl4 terbentuk 2 lapisan dimana lapisan atas keruh, sedangkan lapisan bawah bening dan masih terdapat endapan. Reaksi yang berlangsung pada perlakuan ini adalah sebagai berikut :
AgNO3 + KF AgF + KNO3
AgNO3 + KCl AgCl + KNO3
AgNO3 + KBr AgBr + KNO3
AgNO3 + KI AgBr + KNO3
Dari reaksi tersebut, dapat dilihat bahwa jika KF, KCl, KBr dan KI direaksikan dengan AgNO3 maka masing-masing akan membentuk endapan AgF, AgCl, AgBr, dan AgI yang sukar larut sehingga pada keempat tabung tersebut terbentuk endapan. Tetapi dari hasil pengamatan pada tabung 1 yaitu KF direaksikan dengan AgNO3 tidak terbentuk endapan berbeda dengan keempat tabung lainnya. Hal ini disebabkan kerena pada unsur halogen, F merupakan unsur yang paling elektronegatif sehingga lebih besar kemampuannya untuk menerima 1 elektron yang dilepas oleh Ag+ membentuk AgCl. Keelektronegatifan dalam unsur halogen berkurang dari atas kebawah maka dari percobaan dapat dilihat tingkat kelarutan pada setiap tabung dimana tabung 4 lebih keruh dari tabung 3, tabung 3 lebih keruh dari tabung 2 dan tabung 2 lebih keruh dari tabung 1. Dan pada tabung 1,2, dan 3 terbentuk endapan sedangkan pada tabung 1 tidak terbentuk endapan. Karena susunan keelektronegatifan dari unsur halogen adalah sebagai berikut : F > Cl > Br >I. Selanjutnya setelah keempat tabung ditambahkan dengan CCl4 pada keempat tabung tersebut terjadi pemisahan larutan dimana larutan larutan atas keruh, larutan bawah bening dan pada tabung 1,2, dan 3 masih terdapat endapan. Berarti larutan tersebut tidak bereaksi dengan CCl4 yang ditambahkan. Lapisan bawah yang bening menrupakan larutan CCl4 yang tidak bereaksi dengan lerutan tersebut, sedangkan lapisan atas yang keruh pada keempat tabung adalah larutan awal dalam tiap tabung yang tidak bereaksi dengan CCl4 sedangkan endapan tetap terbentuk pada lapisan bawah karena adanya perbedaan kerapatan ketiga zat tersebut. Kerapatan dari endapan yang terbentuk lebih besar sehingga endapan terletak dibawah, sedangkan kerapatan CCl4 lebih kecil dari kerapatan endapan namun lebih besar dari larutan awal dalam tabung sehingga CCl4 terletak dibawah dan larutan awal dalam tabung memiliki kerapatan yang lebih kecil dari endapan dan CCl4 sehingga terletak diatas.
Pada perlakuan 2B ini perosedurnya sama dengan perlakuan 2A hanya saja pada perlakuan 2B ini menggunakan besi (III) dan NaOH yang tambahkan pada empat tabung yang masing-masing tabung terdapat KF pada tabung 1, KCl pada tabung 2, KBr pada tabung 3 dan KI pada tabung 4. Setelah penambahan besi (III) pada masing-masing tabung semuanya sama-sama membentuk endapan berwarna oranye. Persamaan reaksi untuk keempat tabung tersebut adalah :
FeCl3 + 3NaOH Fe(OH)3 + NaCl
Tabung 1 : Fe(OH)3 + KF FeF3 + KOH
Tabung 2 : Fe(OH)3 + KCl FeCl3 + KOH
Tabung 3 : Fe(OH)3 + KBr FeBr3 + KOH
Tabung 4 : Fe(OH)3 + KI FeI3 + KOH
Endapan oranye yang terbentuk pada keempat tabung tersebut merupakan endapan unsur-unsur halogen yang bereaksi dengan Besi (III) yang masing-masing tabung membentuk endapan FeF3 pada tabung 1, FeCl3 pada tabung 2, FeBr3 pada tabung 3 dan FeI3 pada tabung 4. Dan setelah ditambahkan CCl4 semua larutan dalam keempat tabung tersebut membentuk 2 lapisan, dan diantara kedua lapisan tersebut terdapat endapan oranye. Lapisan bawah adalah larutan CCl4 yang memiliki kerapatan lebih besar dari endapan dan larutan awal dalam tabung, sedangkan endapan oranye adalah endapan halogen yang berikatan dengan besi (III) memiliki karepatan yang lebih kecil dari larutan CCl4 namun lebih besar dari larutan awal dalam tabung, dan lapisan atas adalah larutan dalam tabung yang tidak bereaksi dengan CCl4 karena kerapatannya lebih kecil dari CCl4 dan endapan yang terbentuk.
Pada 2 perlakuan tersebut terlihat bahwa unsur halogen akan bereaksi membentuk endapan jika direaksikan dengan AgNO3 dan besi (III), dan larutan yang terbentuk itu tidak bereaksi dengan larutan CCl4, karena adanya perbedaan kelarutan dan perbedaan kerapatan jenis.
C. KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan yang diperoleh dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan sifat-sifat unsur halogen adalah sebagai berikut :
Unsur halogen dapat dibuat dengan mereaksikan dengan suatu oksidator MnO2 dan KMnO4.
Unsur halogen merupakan unsur yang sangat elektronegatif dengan tingkat keelektronegatifannya menurun dari atas ke bawah berarti keelektronegatifan F > Cl > Br >I.
Kelarutan usur halogen dalam satu golongan semakin berkutang dari atas ke bawah.
Unsur halogen akan membentuk endapan jika direaksikan dengan AgNO3 dan besi (III) serta endapan dan larutan yang terbentuk tidak bereaksi dengan CCl4.
DAFTAR PUSTAKA
Liliasari. 2002. KIMIA 3 Untuk SMU Kelas 3. Jakarta : Balai Pustaka
Penanggungjawab Mata Kuliah. 2008. PENUNTUN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK I. Palu : UNTAD Press
Tim Dosen Kimia Dasar. 2008. KIMIA DASAR II. Palu : UNTAD Press
KARAKTERISTIK UNSUR-UNSUR HALOGEN
PEMBAHASAN
Unsur-unsur elektronegatif yang paling reaktif adalah golongan halogen. Unsur-unsur ini terletak pada golongan VIIA sistem periodik. Golongan ini mempunyai elektron valensi 7 dengan konfigurasi elektron s2p5. Unsur-unsur halogen meliputi flour (F), klor (Cl), Brom (Br), yod (I) dan astatin (At). Unsur At berbeda dengan keempat unsur halogen lain, karena bersifat radioaktif . Dalam keadaan bebas, unsur-unsur halogen membentuk molekul diatom yaitu F2, Cl2, Br2 dan I2. F2, Cl2 dan Br2 larut baik dalam air sedangkan I2 sedikir larut dalam air. I2 mudah larut dalam larutan KI dan pelarut-pelarut organik seperti alkohol, eter, kloroform, CCl4 dan CS2. Pada percobaan ini akan melihat karateristik dari unsur-unsur halogen dimana akan dilakukan 2 perlakuan yaitu pembuatan unsur halogen dan uji sifat unsur-unsur halogen.
Pada perlakuan pertama yaitu pembuatan unsur halogen. Pada perlakuan ini pertama-tama unsur halogen dibuat dengan mereaksikan MnO2 dengan HCl pekat dan ditutup dengan kertas saring yang telah ditetesi dengan NaOH dan indikator PP. Pada saat mereaksikan terbentuk gas dan warna merah muda pada kertas saring hilang. Reaksi yang terjadi pada perlakuan ini adalah sebagai berikut :
2e- + 4H+ + MnO2 Mn2+ + 2H2O
2Cl- Cl2 + 2e-
4H+(aq) + 2Cl-¬(aq) + MnO2(aq) Mn2+(aq) + 2H2O(l) + Cl2(g)
Pada reaksi MnO2 berfungsi sebagai okasidator yang mengoksidasi Cl sehingga bilangan oksidasi Cl meningkat dari -1 menjadi 0, sedangkan Mn sendiri mengalami reaksi reduksi dengan penurunan bilangan oksidasi dari +4 menjadi +2. Gas yang terbentuk pada reaksi tersebut adalah gas klorin yang dibuktikan dengan menutup tabung tersebut dengan kertas saring yang ditetesi dengan NaOH dan indikator PP. Dimana indikator PP apabila diteteskan pada larutan basa akan berubah warna menjadi merah muda, sedangkan setelah bereaksi dengan gas yang terbentuk pada tabung tersebut warna merah muda tersebut menjadi hilang karena NaOH pada kertas saring bereaksi dengan gas klor yang dilepaskan dari reaksi diatas membentuk NaCl dimana NaCl bersifat netral, sehingga warna merah muda yang disebabkan oleh indikator PP tersebut hilang. Karena indikator PP yang warna awalnya bening akan tetap bening jika ditetesi pada larutan garam yang netral. Gas klorin yang lepas segera bereaksi dengan NaOH pada kertas saring membentuk garam NaCl dan NaClO yang merupakan garam netral, berdasarkan reaksi :
Cl2(g) + 2NOH NaCl + NaClO + H2O
Pada reaksi tersebut terlihat bahwa Cl mengalami reaksi aotoredoks, yaitu Cl mengalami oksoidasi dan reduksi. Dengan perubahan bilangan oksidasi dari 0 menjadi -1 dan + 1.
Kedua unsur halogen dibuat dengan mereaksikan KMnO4 dengan HCl pekat. Sama dengan perlakuan pertama tabung yang digunakan untuk reaksi ini ditutup kertas saring yang telah ditetesi dengan NaOH dan indikator PP. Persamaan reaksi yang terjadi pada perlakuan ini adalah :
8H+ + MnO4- + 5e Mn2+ + 4H2O x 2
2Cl- Cl2 + 2e¬- x 5
16H+ + 2MnO4- + 10e- 2Mn2+ + 8H2O
10Cl- 5Cl2 + 10e-
16H+ + 10Cl- + 2MnO4- 2Mn2+ + 8H2O + 5Cl2(g)
Pada reaksi tersebut KMnO4 juga berfungsi sebagai oksidator sama dengan MnO2 pada perlakuan pertama. KMnO4 akan mengoksidasi Cl sehingga Cl mengalami reaksi oksidasi yang ditandai dengan perubahan bilangan oksidasi dari -1 menjadi 0. Sedangkan Mn pada KMnO4 mengalami reaksi reduksi dengan perubahan bilangan oksidasi dari +7 menjadi +2. NaOH dan indikator PP pada perlakuan ini sama fungsinya dengan pada perlakuan pertama, untuk membuktikan adanya gas Cl2 yang terbentuk dari reaksi tersebut. Berarti pada pembuatan undur halogen ini unsur halogen yang terbentuk adalah Cl berupa gas Cl2.
Pada perlakuan kedua yaitu uji sifat unsur-unsur halogen, dilakukan 2 perlakuan yaitu perlakuan 2A akan melihat kelarutan unsur halogen jika direaksikan dengan AgNO3 dan CCl4 dan perlakuan 2B yaitu melihat kelarutan unsur halogen jika direaksikan dengan besi (III), NaOH dan CCl4.
Pada perlakuan perlakuan 2A ini digunakan 4 tabung reaksi. Pada tabung pertama mereaksikan KF dengan AgNO3 larutan menjadi keruh dan setelah ditambahkan dengan CCl4 terbentuk 2 lapisan dimana lapisan atas berwarna keruh dan laisan bawah berwarna bening. Pada tabung 2 yaitu mereaksikan KCl dengan AgNO3 larutan yang terbentuk berwarna putih susu dan terdapan endapan putih dan setelah ditambahkan dengan CCl4 terbentuk 2 lapisan dimana lapisan atas berwarna keruh dan lapisan bawah bening dan masih terdapat endapan. Pada tabung ketiga, KBr direaksikan dengan AgNO3 larutan yang terbentuk keruh dan terdapat endapan putih agak kehijauan, setelah ditambahkan dengan CCl4 terbentuk 2 lapisan. Lapisan bawah berwarna bening dan terbentuk endapan sedangkan lapisan atas keruh. Pada tabung 4 mereaksikan KI dengan AgNO3 larutan yang terbentuk lebih keruh dari tabung 3 dan terdapat endapan. Setelah ditambahkan dengan CCl4 terbentuk 2 lapisan dimana lapisan atas keruh, sedangkan lapisan bawah bening dan masih terdapat endapan. Reaksi yang berlangsung pada perlakuan ini adalah sebagai berikut :
AgNO3 + KF AgF + KNO3
AgNO3 + KCl AgCl + KNO3
AgNO3 + KBr AgBr + KNO3
AgNO3 + KI AgBr + KNO3
Dari reaksi tersebut, dapat dilihat bahwa jika KF, KCl, KBr dan KI direaksikan dengan AgNO3 maka masing-masing akan membentuk endapan AgF, AgCl, AgBr, dan AgI yang sukar larut sehingga pada keempat tabung tersebut terbentuk endapan. Tetapi dari hasil pengamatan pada tabung 1 yaitu KF direaksikan dengan AgNO3 tidak terbentuk endapan berbeda dengan keempat tabung lainnya. Hal ini disebabkan kerena pada unsur halogen, F merupakan unsur yang paling elektronegatif sehingga lebih besar kemampuannya untuk menerima 1 elektron yang dilepas oleh Ag+ membentuk AgCl. Keelektronegatifan dalam unsur halogen berkurang dari atas kebawah maka dari percobaan dapat dilihat tingkat kelarutan pada setiap tabung dimana tabung 4 lebih keruh dari tabung 3, tabung 3 lebih keruh dari tabung 2 dan tabung 2 lebih keruh dari tabung 1. Dan pada tabung 1,2, dan 3 terbentuk endapan sedangkan pada tabung 1 tidak terbentuk endapan. Karena susunan keelektronegatifan dari unsur halogen adalah sebagai berikut : F > Cl > Br >I. Selanjutnya setelah keempat tabung ditambahkan dengan CCl4 pada keempat tabung tersebut terjadi pemisahan larutan dimana larutan larutan atas keruh, larutan bawah bening dan pada tabung 1,2, dan 3 masih terdapat endapan. Berarti larutan tersebut tidak bereaksi dengan CCl4 yang ditambahkan. Lapisan bawah yang bening menrupakan larutan CCl4 yang tidak bereaksi dengan lerutan tersebut, sedangkan lapisan atas yang keruh pada keempat tabung adalah larutan awal dalam tiap tabung yang tidak bereaksi dengan CCl4 sedangkan endapan tetap terbentuk pada lapisan bawah karena adanya perbedaan kerapatan ketiga zat tersebut. Kerapatan dari endapan yang terbentuk lebih besar sehingga endapan terletak dibawah, sedangkan kerapatan CCl4 lebih kecil dari kerapatan endapan namun lebih besar dari larutan awal dalam tabung sehingga CCl4 terletak dibawah dan larutan awal dalam tabung memiliki kerapatan yang lebih kecil dari endapan dan CCl4 sehingga terletak diatas.
Pada perlakuan 2B ini perosedurnya sama dengan perlakuan 2A hanya saja pada perlakuan 2B ini menggunakan besi (III) dan NaOH yang tambahkan pada empat tabung yang masing-masing tabung terdapat KF pada tabung 1, KCl pada tabung 2, KBr pada tabung 3 dan KI pada tabung 4. Setelah penambahan besi (III) pada masing-masing tabung semuanya sama-sama membentuk endapan berwarna oranye. Persamaan reaksi untuk keempat tabung tersebut adalah :
FeCl3 + 3NaOH Fe(OH)3 + NaCl
Tabung 1 : Fe(OH)3 + KF FeF3 + KOH
Tabung 2 : Fe(OH)3 + KCl FeCl3 + KOH
Tabung 3 : Fe(OH)3 + KBr FeBr3 + KOH
Tabung 4 : Fe(OH)3 + KI FeI3 + KOH
Endapan oranye yang terbentuk pada keempat tabung tersebut merupakan endapan unsur-unsur halogen yang bereaksi dengan Besi (III) yang masing-masing tabung membentuk endapan FeF3 pada tabung 1, FeCl3 pada tabung 2, FeBr3 pada tabung 3 dan FeI3 pada tabung 4. Dan setelah ditambahkan CCl4 semua larutan dalam keempat tabung tersebut membentuk 2 lapisan, dan diantara kedua lapisan tersebut terdapat endapan oranye. Lapisan bawah adalah larutan CCl4 yang memiliki kerapatan lebih besar dari endapan dan larutan awal dalam tabung, sedangkan endapan oranye adalah endapan halogen yang berikatan dengan besi (III) memiliki karepatan yang lebih kecil dari larutan CCl4 namun lebih besar dari larutan awal dalam tabung, dan lapisan atas adalah larutan dalam tabung yang tidak bereaksi dengan CCl4 karena kerapatannya lebih kecil dari CCl4 dan endapan yang terbentuk.
Pada 2 perlakuan tersebut terlihat bahwa unsur halogen akan bereaksi membentuk endapan jika direaksikan dengan AgNO3 dan besi (III), dan larutan yang terbentuk itu tidak bereaksi dengan larutan CCl4, karena adanya perbedaan kelarutan dan perbedaan kerapatan jenis.
C. KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan yang diperoleh dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan sifat-sifat unsur halogen adalah sebagai berikut :
Unsur halogen dapat dibuat dengan mereaksikan dengan suatu oksidator MnO2 dan KMnO4.
Unsur halogen merupakan unsur yang sangat elektronegatif dengan tingkat keelektronegatifannya menurun dari atas ke bawah berarti keelektronegatifan F > Cl > Br >I.
Kelarutan usur halogen dalam satu golongan semakin berkutang dari atas ke bawah.
Unsur halogen akan membentuk endapan jika direaksikan dengan AgNO3 dan besi (III) serta endapan dan larutan yang terbentuk tidak bereaksi dengan CCl4.
DAFTAR PUSTAKA
Liliasari. 2002. KIMIA 3 Untuk SMU Kelas 3. Jakarta : Balai Pustaka
Penanggungjawab Mata Kuliah. 2008. PENUNTUN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK I. Palu : UNTAD Press
Tim Dosen Kimia Dasar. 2008. KIMIA DASAR II. Palu : UNTAD Press
dekomposisi termal karbonat
PERCOBAAN II
DEKOMPOSISI THERMAL KARBONAT
PEMBAHASAN
Pada percobaan dekomposisi thermal karbonat ini akan mempelajari pendekomposisian natrium hidrogen karbonat dengan pemanasan dan mengkur derajat reaksi secara akurat dengan menganalisa padatan natrium karbonat yang terbentuk. (Penuntun Praktikum Kimia Anorganik I, 2008)
Jika dipanaskan, kebanyakan karbonat cenderung mengalami dekomposisi membentuk oksida logam dan karbon dioksida.
Hidrogenkarbonat Golongan 1 cukup stabil dalam wujud padat, walaupun mudah terdekomposisi jika dipanaskan. Seperti untuk natrium hidrogenkarbonat:
2NaHCO3(s) Na2CO3(s) + CO2(g) + H2O(l)
Pada saat pemanasan NaHCO3 akan terurai melepaskan CO2 dan H2O, sehingga yang tersisa hanyalah natrium karbonat dalam bentuk padatan. (Situs Web Kimia Indonesia, Chem-is-try.org)
Pada percobaan ini akan mendekomposisi NaHCO3 yang diketahui massanya menjadi Na2CO3 lalu menimbang beratnya kemudian membandingkan massa Na2CO3 prediksi berdasarkan kuantitas awal dari NaHCO3, maka dari hasil ini persen konversi dari NaHCO3 menjadi Na2CO3 dapat dihitung.
Dari percobaan, setelah pemanasan diperoleh berat Na2CO3 yang terbentuk adalah 1,83 gr dari berat NaHCO3 awal 2 gr. Setelah memasukan data hasil percobaan ke dalam perhitungan diperoleh massa Na2CO3 dari perhitungan adalah 1,06 gr.
Massa yang diperoleh dari percobaan lebih besar dari pada massa yang diperoleh dari perhitungan sehingga untuk mendapatkan persen hasil dengan membandingkan massa Na2CO3 dari percobaan dengan Na2CO3 dari perhitungan dapat diperoleh persen hasil lebih dari seratus persen. Berarti, padatan Na2CO3 yang terbentuk pada percobaan yang dilakukan masih mengandung NaHCO3, dalam pemanasan NaHCO3 belum bereaksi semuanya.
Karena massa Na2CO3 pada percobaan lebih besar dari pada Na2CO3 dari hasil perhitungan, maka untuk mendapatkan persen hasil yang kecil persamaan yang digunakan dibalik sehingga mendapatkan persen hasil dari Na2CO3 sebesar 58 %. Tapi hal ini kurang efisien, karena tidak sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Jika persamaan yang digunakan tidak dibalik akan lebih menjelaskan bahwa dalam Na2CO3 yang didapatkan dalam percobaan masih mengandung NaHCO3 dengan melihat persen hasil yang didapat.
Larutan Na2CO3 dapat dititrasi dengan HCl yang diketahui konsentrasinya untuk mendapatkan nilai kedua dari massa Na2CO3 yang dihasilkan pada dekomposisi termal. (Penuntun Praktikum Kimia Anorganik I, 2008)
Pada percobaan ini, Na2CO3 dititrasi dengan menggunakan larutan HCl standar. Larutan standar adalah larutan yang konsentrasinya telah ditetapkan secara akurat. (Buku Ajar Kimia Analitik I, 2006)
Larutan Na2CO3 dititrasi dengan larutan HCl karena Na2CO3 ¬merupakan garam yang bersifat basa karena merupakan garam yang dihidrolisis dari asam lemah H2CO3 dengan basa kuat NaOH. Garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat akan terhidrolisis sebagian (parsial) dan bersifat basa. (Michael Purba, 2002)
Pada titrasi Na2CO3 dengan HCl menggunakan indikator metil oranye, yang pada awalnya larutan berwarna kuning kemudian mencapai titik akhir titrasi warnanya berubah menjadi oranye.
Untuk basa lemah yang memiliki pH di bawah 7 indikator yang sering digunakan adalah metil merah (4,2 – 6,2) dan metil oranye (3,1 – 4,4). Na2CO3 merupakan garam yang basa lemah maka pada percobaan ini menggunakan indikator metil oranye. Karena dalam melakukan titrasi kita harus menggunakan indikator yang berubah warna disekitar titik ekivalen dari titrasi. (R.A. Day, JR. & A.L. Underwood, 2001).
Titrasi antara Na2CO3 dengan HCl akan menghasilkan NaCl dan melepaskan CO2 dan H2O dengan persamaan reaksi sebagai berikut :
Na2CO3(aq) + 2HCl(aq) 2NaCl(aq) + H2O(l) + CO2(g)
Titrasi dilakukan sebanyak 3 kali dengan volume Na2CO3 yang sama yaitu 25 mL, dari 3 kali perlakuan diperoleh volume HCl berturut-turut adalah 25,47 mL, 25,42 mL, dan 25,3 mL. Dan dari perhitungan diperoleh massa Na2CO3 untuk ketiga perlakuan berturut-turut sama yaitu 0,53 gr, sehingga berat rata-rata massa Na2CO3 yang diperoleh dari titrasi adalah 0,53 gr.
Pada percobaan yang dilakukan terdapat perbedaan antara massa Na2CO3 yang didapat dari pemanasan yaitu 1,83 gr dengan massa Na2CO3 dari hasil titrasi yaitu 0,53 gr. Karena, massa Na2CO3 pada pemanasan NaHCO3 masih terhitung dengan massa NaHCO3 yang tidak bereaksi, sedangkan pada perhitungan dari hasil titrasi yang dihitung adalah massa Na2CO3 yang telah dilarutkan atau diencerkan.
D. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Pendekomposisian natrium hidrogen karbonat dilakukan dengan pemanasan dan akan terurai membentuk Na2CO3, CO2 dan H2O dengan persamaan reaksi :
2NaHCO3(s) Na2CO3(s) + CO2(g) + H2O(l)
2. Massa padatan Na2CO3 yang terbentuk dari dekomposisi termal NaHCO3 pada perlakuan pertama adalah 1,83 gr, sedangkan pada massa kedua yaitu massa Na2CO3 hasil titrasi adalah 0,53 gr.
DEKOMPOSISI THERMAL KARBONAT
PEMBAHASAN
Pada percobaan dekomposisi thermal karbonat ini akan mempelajari pendekomposisian natrium hidrogen karbonat dengan pemanasan dan mengkur derajat reaksi secara akurat dengan menganalisa padatan natrium karbonat yang terbentuk. (Penuntun Praktikum Kimia Anorganik I, 2008)
Jika dipanaskan, kebanyakan karbonat cenderung mengalami dekomposisi membentuk oksida logam dan karbon dioksida.
Hidrogenkarbonat Golongan 1 cukup stabil dalam wujud padat, walaupun mudah terdekomposisi jika dipanaskan. Seperti untuk natrium hidrogenkarbonat:
2NaHCO3(s) Na2CO3(s) + CO2(g) + H2O(l)
Pada saat pemanasan NaHCO3 akan terurai melepaskan CO2 dan H2O, sehingga yang tersisa hanyalah natrium karbonat dalam bentuk padatan. (Situs Web Kimia Indonesia, Chem-is-try.org)
Pada percobaan ini akan mendekomposisi NaHCO3 yang diketahui massanya menjadi Na2CO3 lalu menimbang beratnya kemudian membandingkan massa Na2CO3 prediksi berdasarkan kuantitas awal dari NaHCO3, maka dari hasil ini persen konversi dari NaHCO3 menjadi Na2CO3 dapat dihitung.
Dari percobaan, setelah pemanasan diperoleh berat Na2CO3 yang terbentuk adalah 1,83 gr dari berat NaHCO3 awal 2 gr. Setelah memasukan data hasil percobaan ke dalam perhitungan diperoleh massa Na2CO3 dari perhitungan adalah 1,06 gr.
Massa yang diperoleh dari percobaan lebih besar dari pada massa yang diperoleh dari perhitungan sehingga untuk mendapatkan persen hasil dengan membandingkan massa Na2CO3 dari percobaan dengan Na2CO3 dari perhitungan dapat diperoleh persen hasil lebih dari seratus persen. Berarti, padatan Na2CO3 yang terbentuk pada percobaan yang dilakukan masih mengandung NaHCO3, dalam pemanasan NaHCO3 belum bereaksi semuanya.
Karena massa Na2CO3 pada percobaan lebih besar dari pada Na2CO3 dari hasil perhitungan, maka untuk mendapatkan persen hasil yang kecil persamaan yang digunakan dibalik sehingga mendapatkan persen hasil dari Na2CO3 sebesar 58 %. Tapi hal ini kurang efisien, karena tidak sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Jika persamaan yang digunakan tidak dibalik akan lebih menjelaskan bahwa dalam Na2CO3 yang didapatkan dalam percobaan masih mengandung NaHCO3 dengan melihat persen hasil yang didapat.
Larutan Na2CO3 dapat dititrasi dengan HCl yang diketahui konsentrasinya untuk mendapatkan nilai kedua dari massa Na2CO3 yang dihasilkan pada dekomposisi termal. (Penuntun Praktikum Kimia Anorganik I, 2008)
Pada percobaan ini, Na2CO3 dititrasi dengan menggunakan larutan HCl standar. Larutan standar adalah larutan yang konsentrasinya telah ditetapkan secara akurat. (Buku Ajar Kimia Analitik I, 2006)
Larutan Na2CO3 dititrasi dengan larutan HCl karena Na2CO3 ¬merupakan garam yang bersifat basa karena merupakan garam yang dihidrolisis dari asam lemah H2CO3 dengan basa kuat NaOH. Garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat akan terhidrolisis sebagian (parsial) dan bersifat basa. (Michael Purba, 2002)
Pada titrasi Na2CO3 dengan HCl menggunakan indikator metil oranye, yang pada awalnya larutan berwarna kuning kemudian mencapai titik akhir titrasi warnanya berubah menjadi oranye.
Untuk basa lemah yang memiliki pH di bawah 7 indikator yang sering digunakan adalah metil merah (4,2 – 6,2) dan metil oranye (3,1 – 4,4). Na2CO3 merupakan garam yang basa lemah maka pada percobaan ini menggunakan indikator metil oranye. Karena dalam melakukan titrasi kita harus menggunakan indikator yang berubah warna disekitar titik ekivalen dari titrasi. (R.A. Day, JR. & A.L. Underwood, 2001).
Titrasi antara Na2CO3 dengan HCl akan menghasilkan NaCl dan melepaskan CO2 dan H2O dengan persamaan reaksi sebagai berikut :
Na2CO3(aq) + 2HCl(aq) 2NaCl(aq) + H2O(l) + CO2(g)
Titrasi dilakukan sebanyak 3 kali dengan volume Na2CO3 yang sama yaitu 25 mL, dari 3 kali perlakuan diperoleh volume HCl berturut-turut adalah 25,47 mL, 25,42 mL, dan 25,3 mL. Dan dari perhitungan diperoleh massa Na2CO3 untuk ketiga perlakuan berturut-turut sama yaitu 0,53 gr, sehingga berat rata-rata massa Na2CO3 yang diperoleh dari titrasi adalah 0,53 gr.
Pada percobaan yang dilakukan terdapat perbedaan antara massa Na2CO3 yang didapat dari pemanasan yaitu 1,83 gr dengan massa Na2CO3 dari hasil titrasi yaitu 0,53 gr. Karena, massa Na2CO3 pada pemanasan NaHCO3 masih terhitung dengan massa NaHCO3 yang tidak bereaksi, sedangkan pada perhitungan dari hasil titrasi yang dihitung adalah massa Na2CO3 yang telah dilarutkan atau diencerkan.
D. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Pendekomposisian natrium hidrogen karbonat dilakukan dengan pemanasan dan akan terurai membentuk Na2CO3, CO2 dan H2O dengan persamaan reaksi :
2NaHCO3(s) Na2CO3(s) + CO2(g) + H2O(l)
2. Massa padatan Na2CO3 yang terbentuk dari dekomposisi termal NaHCO3 pada perlakuan pertama adalah 1,83 gr, sedangkan pada massa kedua yaitu massa Na2CO3 hasil titrasi adalah 0,53 gr.
Langganan:
Komentar (Atom)